
Kalo belum bisa ngebayangin sakitnya punya kanker dan punya penyakit jantung, gimana dengan risiko impotensi dan pertumbuhan sperma yang jelek? Bayangin yang satu ini.
Siapa yang nggak tau bahwa rokok adalah pemicu nomor satu segala penyakit gawat yang menurunkan kualitas hidup. Kanker paru-paru, sakit jantung, kanker kandung kemih, kanker prostat, dan insomnia adalah segudang risiko yang dihadapi seorang perokok. Tapi apa yang terjadi? Kita nggak peduli! Biasalah, selagi kesehatan itu menjadi milik kita, maka sulit untuk menghargainya. Apalagi, banyak yang berpikir bahwa cepat atau lambat seseorang itu pasti akan mati. Ancaman kematian yang ngepul bersama asap rokok sama sekali nggak bikin bergidik. Padahal bukan soal kapan matinya, tapi lebih kepada gimana kita melewati proses menuju kematian itu. Apakah dengan cara yang lebih enak atau yang nggak enak?
Juga jangan lupa dengan nasib kesehatan orang lain yang menjadi perokok pasif. Betulkan kita nggak cuma berbasa-basi waktu minta izin ke mereka untuk menghisap rokok? Karena tentu aja jawaban yang diharapkan adalah ,"Boleh." Sementara seluruh organ tubuh kita sendiri (kalo aja mereka bisa bicara dengan bahasa yang kita mengerti) pasti akan menolak. Rokok mengandung kurang lebih 400 zat racun dan 40 di antaranya menyebabkan kanker (karsinogen).
- IMPOTENSI
Dampak merokok nggak terjadi secara seketika. Tapi ketika kebiasaan itu berlangsung menahun maka berhati-hatilah. Sebab belum ada penelitian yang menyatakan berapa jumlah rokok yang aman buat dikonsumsi dalam sehari. Bisa dibilang setiap batangnya memiliki kadar risiko terhadap tubuh. Lagi pula ada ancaman lain yang bisa jadi mimpi buruk buat cowok, yaitu impotensi dan terganggunya pertumbuhan sperma. Faktanya, zat yang dikandung rokok mengurangi kelancaran aliran darah di pembuluh-pembuluh periferal (yang letaknya jauh dari pusat). Dengan kata lain, aliran darah yang diperlukan untuk mencapai ereksi bisa terblokade.
Di Amerika, satu dari dua laki-laki berusia di atas 40 tahun mengalami impotensi. Kondisi tersebut sebelumnya dianggap sebagai akibat masalah psikis. Tapi penelitian kemudian menemukan bahwa kerusakan fisik juga ikut berperan. Di antaranya disebabkan kebiasaan merokok.
"Terhadap fungsi ereksi, rokok itu jelas mengganggu," tegas DR.Dr Akmal Taher, Spesialis Urologi di Bagian Ilmu Bedah Fakultas Kedokteran UI. Kalo sampai hari ini kita masih mampu mengalami ereksi, bukan berarti merokok layak diteruskan sebagai kebiasaan. "Habis merokok emang nggak terus langsung impoten," katanya. "Itu makan waktu, tapi jelas itu adalah risiko yang dihadapi perokok." "Kalo kita kumpulkan sekelompok laki-laki yang perokok dan bukan perokok, lalu kita evaluasi setelah lima sampai sepuluh tahun ke depan, maka kelihatan bahwa gangguan ereksi itu lebih banyak ada pada golongan perokok," tambah Pak Dokter.
- SOAL SPERMA
"Kedua, merokok juga berpengaruh jelek terhadap pertumbuhan sperma. Yang ini sih nggak usah lama-lama juga udah bisa dilihat akibatnya," kata Dr. Akmal. Dan apakah impotensi atau pertumbuhan sperma yang buruk itu bersifat menetap atau sementara, ia berkomentar bahwa hal itu belum bisa dijelasin. "Belum ada yang bikin penelitian tentang hal itu," tambahnya. "Tapi jelas, dari studi yang kita bikin didapat angka bahwa orang yang merokok punya gangguan pertumbuhan sperma lebih besar daripada yang nggak merokok. " Terganggunya pertumbuhan sperma bakal berkaitan dengan jumlah dan kualitas sperma yang dihasilkan seseorang. "Jumlahnya jadi lebih sedikit dan kualitasnya jadi lebih jelek," tandas Dr Akmal. Semua itu emang nggak otomatis mengakibatkan kemandulan hingga yang bersangkutan nggak bisa punya anak. Tetapi yang jelas, merokok memperbesar kemungkinan untuk menjadi seperti itu.
"Kalo ngomong soal bisa nggaknya punya keturunan kan harus melihat faktor istri dan segala macemnya," timpal Dr Akmal. "Sementara untuk gangguan ereksi, jelas bahwa seorang perokok punya risiko dua kali lipat lebih besar ketimbang yang bukan perokok. Bahkan hampir tiga kali lipat. Dan itu independen terhadap faktor lain. " Artinya, risiko gangguan ereksi atau impotensi pada setiap perokok kemungkinannya selalu sama. "Dalam hal faktor risiko, maka ada risiko yang muncul karena faktor lain. Tapi kalo merokok ini, nggak usah ada faktor lain pun risikonya selalu ada.
" Kesimpulannya, risiko gangguan ereksi pada perokok nggak bisa dikurangi meskipun yang bersangkutan makan makanan sehat dan berolahraga teratur misalnya. "Saya pikir merokok ini masalah serius lho," tambah Pak dokter. Bisa dibayangin, gimana nggak ngeselinnya kalo pada saat udah berkeluarga nanti, sementara umur pun belum beranjak uzur, tau-tau alat vital yang cuma satu itu mogok bekerja. Wah apes...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar