Favor of GOD

Laman

Jumat, 23 Juli 2010

Dilarang Ibadah dan Disandera, Jemaat HKBP Lapor Polisi

Tekanan terhadap gereja terjadi kembali, kali ini dialami oleh jemaat Gereja HKBP Pondok Timur Indah, Bekasi. Saat usai melakukan ibadah pada hari Minggu (18/7) pagi, jemaat disandera oleh sekelompok orang dan melarang mereka untuk beribadah. Menanggapi hal ini, jemaat dan pengurus Gereja HKBP Pondok Timur Indah pun melapor ke Mabes Polri.

Menurut penutura Pendeta L Simanjuntak, sekitar 600 orang datang dan melarang jemaat beribadah di RT 03/ RW 06 Kampung Ciketing, Kelurahan Mustikan Jaya, Bekasi. Selain itu jemaat pun disandera sekitar satu jam lamanya.

Sebenarnya tempat ibadah yang sekarang adalah tempat kedua setelah gereja tersebut dilarang mengadakan ibadah di Jalan Puyuh, Kelurahan Mustika Jaya pada Desember 2009. Bahkan Pemerintah Kota Bekasi menyegel tempat ibadah tersebut pada Maret 2010.

Setelah penyegelan, diadakan pertemuan antara pemkot, Polres Bekasi dan instansi terkait. Salah satu hasil kesepakatan ibadah dipindahkan ke sebuah tempat milik pribadi, tetapi jemaat tetap dilarang beribadah. Pada Sabtu (10/7) lalu ada sekelompok orang dengan atribus ormas tertentu membentangkan tiga spanduk menolak adanya gereja di wilayah tersebut.

“Sebelum dan selama ibadah berlangsung, mereka berteriak-teriak agar jemaat bubar dan jangan melakukan ibadah di lokasi. Mereka berteriak sambil memukuli seng dan kaleng bekas," demikian ungkap Pendeta Simanjuntak.

Yang sangat disayangkan oleh jemaat dan Pendeta Simanjuntak adalah anggota Polres datang dan meminta ibadah jangan dilakukan lagi di lokasi terebut karena massa yang menolak jumlahnya banyak. Menurut pandangan Pendeta Simanjuntak, seharusnya polisi melindungi mereka dan membubarkan massa. Hal ini menurutnya merupakan pelanggaran hak asasi.

Jemaat dan pengurus Gereja HKBP Pondok Timur Indah yang melapor ke Gedung Bareskrim Mabes Polri sekitar 30 orang melakukan ibadah di halaman Gedung Bareskrim sebelum melapor. Hal ini memicu ketegangan dengan anggota polisi yang sempat melarang hal tersebut. Seorang anggota satuan yang berpakaian sipil sempat melarang dengan alasan di dalam sedang rapat, bahkan sempat mengatakan pada petugas di dalam sentra pelayanan kepolisian agar jangan menerima laporan mereka.

Sulitnya mendapatkan ijin mendirikan tempat beribadah dan tekanan dari kelompok-kelompok tertentu telah mencederai kebebasan beragama yang dijamin oleh UUD 45. Penutupan, penyegelan dan perusakan rumah ibadah atas nama agama tertentu sudah sering terjadi, namun pihak kepolisian seperti tidak berdaya dan tidak melakukan tindakan tegas terhadap kejadian seperti ini. Mari kita berikan dukungan doa serta moril bagi umat Tuhan yang sedang mengalami tekanan dan aniaya.

Source : Kompas.com

Pendapat Yousef dan Ahli Islam atas Mesjid di Ground Zero

Sampai saat ini perdebatan tentang pembuatan mesjid di wilayah Ground Zero masih diperdebatkan. Beberapa ahli dalam agama Islam, termasuk penulis buku ‘Son of Hamas’ menolak ide untuk membangun mega mesjid di dekat Ground Zero karena mereka mengatakan bahwa motivasinya adalah politik bukan pemulihan.

“Kenapa daerah tersebut yang malah dipilih? Apakah karena kebutuhan akan mesjid senilai $100 juta itu begitu mendesak? Apakah karena Taman 45-47 itu satu-satunya tempat terakhir di Manhattan yang bisa dipakai untuk membangun mesjid?” kata Mosab Hassan Yousef, penulis buku ‘Son of Hamas’ dalam blognya.

“Tidak. Karena itu akan menjadi politik yang begitu kuat dan juga pernyataan keagamaan.” Yousef, seperti beberapa umat Kristen yang mengerti tentang ke-Islam-an, memperingati bahwa alasan mereka tidaklah tepat dan hal ini sama seperti mempromosikan toleransi yang terlalu besar. Sama artinya dengan menyetujui pernyataan Muslim ekstrem yang membom World Trade Center dan membunuh ribuan penduduk Amerika tahun 2001.

“Jika Cordoba dan organisasi Muslim lainnya di Amerika ingin melakukan ‘sesuatu yang baik dan besar’, lebih baik mereka membangun rumah sakit daripada mesjid.”, kata Yousef, dimana ayahnya merupakan salah satu pemimpin dari teroris Palestina grup Hamas. “Bangun sesuatu yang dapat membantu keluarga korban 9/11. Lakukan sesuatu yang produktif untuk kemanusiaan secara umum, daripada menantang kebebasan dan membuat orang-orang bingung tentang ke-Islam-an.”

Salah seorang teologia yang sudah mempelajari Islam selama 40 tahun, yang tidak mau disebutkan namanya, mengatakan bahwa misi Islam berhubungan dengan menanamkan kebudayaan Islam di tempat yang strategis seperti Ground Zero. “Ground Zero merupakan tempat bersejarah bagi Amerika sama seperti kematian John F. Kennedy, yang tidak akan pernah lepas dari kenangan manusia. Dengan dibangunnya mesjid di lokasi yang paling dekat dengan itu, adalah ancaman bagi sejarah karena menunjukkan Islam secara nyata ke penjuru dunia, bahwa mereka berkuasa, bahwa mereka sudah menguasai daerah Barat dunia (Amerika).”

Saat ini, Cordoba dan American Society for Muslim Advancement telah memiliki gedung di lokasi 45-47 setelah membayar $4.85 juta secara tunai kepada Soho Properties, sebuah perusahaan pembangunan Muslim tahun lalu. Saat ini bangunan itu telah digunakan sebagai tempat pertemuan dan tempat berdoa. Komisi New York akan melakukan voting pada bulan Agustus di lokasi bekas bangunan 45-47 tersebut.